Skip to main content

SEJARAH Hari Ini : 14 Agustus 1945, Masyarakat Bajeng Nyatakan Indonesia Merdeka

Masyarakat Bajeng
Suasana peringatan Gaukang Tubajeng di Balla Lompoa Limbung, Senin (14/08/2017) pagi (KABAR.NEWS/Fardan)

 

KABAR.NEWS - Pada Jumat 10 Agustus 1945, seorang perwira Jepang bernama Fukushima datang di Balla Lompoa Limbung Bajeng, di mana sekumpulan benda-benda bersejarah peninggalan nenek moyang Tubajeng disimpan dan dipelihara dengan baik oleh keluarga besar Tubajeng.

Fukushima ingin melihat benda-benda bersejarah tersebut, namun oleh batang Banoa Limbung sebagai penanggung jawab menyatakan bahwa benda-benda tersebut hanya dapat dilihat dan disaksikan bila dihadiri oleh batang Banoa appaka dengan pemuka masyarakat Bajeng.

Pada hari Sabtu, 11 Agustus 1945, hadirlah di Balla Lompoa Limbung empat batang Banoa masing-masing, batang Banoa Limbung, mataallo, Ballo, dan Pammase.

Fukushima menceritakan bahwa Jepang sekarang sudah kalah karena pemboman Nagasaki dan Hiroshima oleh sekutu. Jepang menyatakan akan meninggalkan Indonesia. Jika tidak ada perlawanan maka Belanda akan kembali memerintah Indonesia.

Fukushima menyatakan ini adalah waktu yang tepat menyatakan kemerdekaan dan melepaskan diri dari penjajahan. Setelah diadakan pertemuan, maka disepakati bahwa Gaukang Tubajeng akan dibuka pada 14 Agustus 1945 yang belum pernah dilihat oleh siapapun.

Dengan hormat dibukalah sebuah kotak kayu berisi:
"Sebuah bendera berwarna merah dengan ornamen putih, menurut pesan orang orang tua bendera itu adalah bendera kerajaan Bajeng bernama Jole-Jolea dan sebuah bendera merah polos segi empat panjang adalah bendera perang, dan bila keduanya dikibarkan bersama, maka berarti bahwa Bajeng dalam keadaan darurat atau perang"

Dalam suatu upacara di depan Batang Banoa Appaka dan para pemuka masyarakat Bajeng yang memenuhi halaman Balla Lompoa Limbung, kedua bendera itu di sussuru' dan dikibarkan pada satu tiang berdampingan dengan bendera merah putih.

Setelah bendera dikibarkan berarti keluarga besar Bajeng sudah dalam keadaaan siap berperang, maka untuk memenuhi pesan leluhur bahwa sebelum pergi berperang mereka akan berkumpul di Bungung Barania untuk addinging-dinging.


Pada hari Selasa, tanggal 14 Agustus 1945 kira-kira 09.00 bendera Tubajeng dan bendera merah putih diarak oleh puluhan ribu rakyat yang datang dari berbagai pelosok dan diapit oleh orang Tubarani diiringi perangkat perang Tubajeng yang dibawa oleh petugas tertentu ke Bungung Barania dengan berbagai kegiatan tradisional maupun pertunjukan kesenian daerah dan latihan bela diri.

Sampai tanggal 17 Agustus, saat proklamasi kemerdekaan Indonesia di Jakarta (diketahui dari tuan Razak asisten kepala daerah Gowa) , maka dikibarkanlah untuk kedua kalinya bendera merah putih dengan upacara sederhana di Panranga.

Ternyata dari Gaukang Tubajeng, telah membangkitkan semangat juang Bajeng dan memastikan kesiapan menghadapi segala kemungkinan dalam membela keadilan dan kemerdekaan.

Pada tanggal 17 Agustus pula, benda-benda pusaka dikembalikan di Balla Lompoa Limbung, dan tersimpan hingga sekarang.

  • (Dirangkum dari naskah peringatan Gaukang Tubajeng, 14 Agustus 2017)