Skip to main content

Soroti Kebijakan Impor Sulsel, Syahrul YL : Memangnya Kita Pemabuk?

syl
Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo saat menjadi pembicara di studio Metro TV di Jakarta. (KABAR.NEWS/Miftahul Khaeriyah)

KABAR.NEWS, Jakarta - Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo menjadi pembicara pada Fokus Group Discussion (FGD) "Menakar Utilitas Rakyat atas Tol Laut Jokowi" yang dilaksanakan di Metro TV. Melalui momen tersebut, SYL menyoroti kebijakan impor di kawasan Indonesia Timur, khususnya bagi Sulawesi Selatan.


"Untuk kebijakan impor, beberapa komoditi hanya bisa di Jakarta dan Surabaya, namun di Makassar tidak. Di Makassar hanya bisa impor minuman keras, memangnya kita mau jadi pemabuk? impor lain juga harus dibuka, sehingga kontainer tidak kosong, hanya saja rasa nasionalime kita harus tinggi," ungkapnya saat menjadi pembicara di studio Metro TV di Jakarta, Selasa (19/12/2017)


Selain itu, menurutnya, salah satu cara tercepat untuk peningkatan ekonomi di Indonesia adalah dengan cara mengaktifkan tol laut. Di mana, menurut Syahrul, hal tersebut memerlukan biaya yang lebih sedikit.


"Katanya kita punya laut 70 persen,  apakah keberpihakan di laut sudah kita lakukan?. Sekolah-sekolah yang ada sudah menciptakan itu. Sulsel sendiri siap menjadi percontohan utama di Indonesia. Jadi perlu adanya peran penelitian dan dunia pendidikan seperti perguruan tinggi dan sekolah-sekolah kemaritiman," bebernya.


Lebih jauh, Syahrul menyebutkan jika ingin berbicara tentang pembangunan di Indonesia Timur maka perlu melalui pendekatan khusus dimana walaupun kawasan tersebut memiliki jumlah penduduk yang lebih sedikit namun sekaligus kaya akan sumber daya alam.


"Kawasan Indonesia Timur sangat kaya akan nikel, emas, minyak bumi dan perikanan. Jangan kira cuma di Arab ada emas dan minyak, kita juga punya. Perikanan misalnya, apa yang kurang, Sulsel punya ikan tuna 52.000 ton jatah per tahun yang baru dikelola 12.000 ton," bebernya.


Keunggulan lain, menurut Syahrul YL, terdapat 9.000 pulau dari 17.000 pulau di Indonesia,  5.000 sungai dan 21 gunung tertinggi. Khusus untuk Sulsel sendiri, dinilai tumbuh dalam sepuluh tahun terkahir sebesar 400 persen dengan Income rakyat dari Rp8,5 juta menjadi Rp53,6 juta.


"Uang yang beredar selama setahun dari Rp85 triliun menjadi Rp403 triliun. Sulsel juga overstok beras dari 900 ribu ton menjadi 2,6 juta dengan nilai setara Rp34 triliun dengan modal hanya Rp378 miliar," tambahnya.


Untuk itu, SYL menanggap Indonesia yang sangat kaya butuh dikelola dengan bagus dan bijaksana. Sebab PDRB nasional hanya 12 persen ke kawasan timur yang selanjutnya akan dibagi untuk 18 provinsi


"Pantas saja  kalau di foto di peta pada malam hari itu gelap. Permasalahan yang harus diselesaikan lainnya adalah insentif, energi,  infrastruktur,  riset dan teknologi, serta regulasi. Selain itu, juga perlu dipisahkan antara mengakselarasi perekonomian dengan keamanan. Jangan terjadi ketimpangan dalam berbagai sektor," terangnya.

Gubernur dua periode ini juga percaya bahwa Indonesia adalah negara besar dan kuat, namun untuk setiap regulasi yang ada perlu diawasi.  Hal yang sebaiknya dilakukan yaitu, untuk bahan bakar minyak perlu hadir insentif di KTI. Terutama yang digunakan untuk pengangkutan. KTI diperhatikan karena hampir seluruh provinsi perekonomianya tumbuh di atas enam persen.


Miftahul Khaeriyah